Praktek Penerapan SILIN di PT.Austral Byna

PT. Austral Byna adalah salah satu IUPHHK-HA pelaksana model system silvikultur Tebang Pilih
Tanam Intensif (SILIN) sesuai Keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor
SK.41/VI-BPHA/2007 tanggal 10 April 2007. Sistem silvikultur SILIN saat ini dinamakan Tebang
Pilih Tanam Jalur (TPTJ) dengan teknik Silvikultur Intensif(SILIN).

 

Pada tahap awal, tahun 2007 perusahaan mengajukan RKT SILIN seluas 500 hektar dan
selanjutnya pada tahun 2008 ditingkatkan menjadi 1.000 hektar. Pada tahun 2009 tidak diajukan
RKT TPTII berhubung saat itu perusahaan lebih berkonsentrasi dalam pengurusan perpanjangan
IUPHHK-HA.

Mulai tahun 2011 perusahaan telah menyusun Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan
Kayu dalam Hutan Alam (RKUPHHK-HA) Periode 2011 – 2020 yang disahkan melalui Keputusan
Menteri Kehutanan Nomor SK.12/BUHA-2/2012 tanggal 18 Januari 2012. Pada RKU tersebut
perusahaan mengalokasikan areal IUPHHK-HA untuk dikelola dengan system silvikultur TPTJ
seluas ± 18.561,16 hektar di lokasi Blok Sungai Jupoi, dengan ETAT luas ± 742,45 hektar pertahun.

Sejak tahun 2007 sampai saat ini (2013) sudah 6 tahun perusahaan melaksanakan
pembangunan tanaman SILIN dan saat ini sudah ditanam ± 2.089 hektar tanaman meranti
yang sebagian besar dari jenis Shorea leprosula (60%) dan sisanya S. smithiana, S.johorensis
, S.parvifolia dan S.selanica .

Berikut adalah beberapa dokumentasi praktek penerapan SILIN di PT. AUSTRAL BYNA sejak tahun 2007 sampai saat ini :

I. PERSIAPAN LAPANGAN
Pada tahapan ini PT. AUSTRAL BYNA memperoleh penunjukan dari Dephut sebagai pemegang IUPHHK-HA model pembangunan Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII). Selanjutnya perusahaan melakukan beberapa prakondisi dan persiapan lapangan diantaranya :

1. Proses Konsultasi, Bimbingan dan Rekomendasi Teknis dengan Tim Pakar SILIN
Dalam menjalankan TPTII (SILIN) perusahaan dibantu dan diarahkan oleh Tim Pakar SILIN yang ditunjuk oleh Departemen Kehutanan yaitu : DR. Ir. Mohammad Sambas Sabarnurdin dan DR. Ir. Sri Nugroho Marsoem, yang berasal dari Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada.

 

Gambar 2 Kunjungan dan Bimbingan Teknis oleh Tim Pakar SILIN PT. AUSTRAL BYNA DR. Ir. Sambas Sabarnurdin dan DR. Ir. Sri Nugroho Marsoem

 

2. Pembangunan Persemaian Jupoi
Persemaian Jupoi dibangun di lahan seluas ± 1,5 hektar berlokasi di dalam areal Blok
Pengelolaan SILIN PT. AUSTRAL BYNA di Sungai Jupoi Desa Muara Inu Kecamatan Lahei.

Persemaian mulai dibangun tahun 2007 dan diperluas pada tahun 2011 menjadi ± 2 hektar. Saat
ini mampu memproduksi bibit meranti ± 300.000 batang per tahun.

Saat sumber bibit meranti berasal dari cabutan dari tegakan benih meranti seluas 100 hektar di
dekat lokasi Blok SILIN Sungai Jupoi yang sudah diidentifikasi oleh Balai Perbenihan Tanaman
Hutan (BPTH) Banjarbaru. Sebagian cabutan diambil dari hutan alam di sekitar persemaian.

Adapun jenis utama yang diproduksi adalah Shorea leprosula dan terdapat Shorea johorensis dan Shorea parvifolia dalam jumlah sedikit.

Gambar3. Persemaian Jupoi dan Aktivitas Produksi Bibit Meranti

II. PEMBANGUNAN TANAMAN SILIN
Tahapan pelaksanaan TPTJ di PT. AUSTRAL BYNA secara garis besar terdiri atas kegiatan-kegiatan di bawah ini :

No. Tahapan Kegiatan
1 Penataan Areal Kerja(PAK)
2 Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan(ITSP)
3 Pembukaan Wilayah Hutan(PWH)
4 Pengadaan Bibit
5 Tebang Naungan
6 Penyiapan dan Pembuatan Jalur Tanam
7 Penanaman dan Pemeliharaan Jalur Tanam
8 Pembebasan dan Penjarangan
9 Pemanenan
10 Perlindungan dan Pengamanan Hutan

Tabel 1. Tahapan pelaksanaan TPTJ

Perusahaan membuat RKT TPTII pertama pada tahun 2007 dan disahkan oleh Dinas Kehutanan
Provinsi Kalimantan Tengah, setelah sebelumnya memperoleh rekomendasi teknis dari Tim pakar
SILIN DR. Ir. Sambas Sabarnurdin dan DR. Ir. Sri Nugroho.

RKT TPTII tahun 2007 seluas 500 hektar berada di lokasi Blok Jupoi. Realisasi penanaman
adalah seluas 462 hektar dan 93.200 pohon tertanam.

Selanjutnya pada tahun 2008 perusahaan mengajukan RKT TPTII seluas 1.000 hektar dan
berhasil ditanami seluas 856,49 hektar dan 171.298 pohon tertanam.

Pada tahun 2009 perusahaan tidak mengajukan RKT TPTII, sedangkan pada tahun-tahun
selanjutnya perusahaan membuat rencana tahunan TPTII (SILIN) disesuaikan dengan target
ETAT TPTJ yang ditetapkan pada RKUPHHK-HA Periode 2011 – 2020 yaitu seluas ± 742,45
hektar per tahun. Berikut adalah target dan realisasi TPTJ (SILIN) dari tahun 2007 – 2013 :

Tampilan visual beberapa tahapan kegiatan SILIN yang dilaksanakan di PT. AUSTRAL BYNA bisa
dilihat pada sebagai berikut :

1. Pembuatan Jalur Tanam
Pembuatan jalur tanam adalah membersihkan jalur tanam selebar 3 meter dari semua tanaman
asal yang tumbuh di dalam jalur dan menaungi jalur. Tujuannya adalah agar supaya jalur
dengan lebar 3-4 meter bersih secara vertikal sehingga penanaman bisa mudah dilakukan dan
sinar matahari bisa sampai ke lantai hutan di dalam jalur tanam untuk memacu pertumbuhan
awal tanaman SILIN.

Jalur tanam dibuat dengan arah Utara – Selatan. Tiap petak 100 hektar dibuat 50 jalur tanam
dengan jarak antara jalur 20 meter.

Gambar 4. Pembuatan jalur tanaman SILIN selebar 3-4 meter

2. Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam dikerjakan secara manual menggunakan cangkul. Ukuran lubang
tanam adalah 40 cm X 40 cm X 30 cm. Jarak antara lubang 2,5 meter sehingga pada tiap jalur
tanam dibuat 400 lubang dan pada petak 100 hektar terdapat 20.000 lubang tanam (200 lubang
per hektar).

Pada prakteknya jumlah lubang tanam per hektar bervariasi tergantung kondisi lapangan.
Jumlah lubang cenderung kurang dari 200 lubang per hektar disebabkan beberapa faktor
lapangan : kelerengan, adanya sungai melintas di dalam petak, jurang dan lain-lain.

Gambar 5. Pembuatan lubang tanam SILIN ukuran 40 cm X 40 cm X 30 cm

3. Penanaman
Hal penting pada saat menanam, sebelum bibit dimasukkan, lubang tanam terlebih dahulu diisi
dengan tanah dan humus dari lantai hutan yang berasal dari bawah tegakan meranti. Ini penting
agar perakaran anakan meranti yang ditanam tertular oleh mikoriza yang ada pada tanah humus tersebut.

Selanjutnya adalah memastikan bahwa polybag telah dilepas dari bibit dan untuk itu harus disimpan di ujung atas ajir tanam.

Gambar 6. Aktivitas menanam meranti

4. Monitoring Pertumbuhan Tanaman
Setelah tanaman meranti ditanam, perlu dilakukan monitoring untuk mengetahui tingkat
pertumbuhannya secara berkala. Untuk itu dibuat Petak Ukur Permanen (PUP) pada tiap petak
100 hektar yang sudah ditanami. Ukuran PUP ditentukan 100 meter X 50 meter sehingga pada
tiap PUP terdapat 5 jalur tanaman yang akan diambil data pertumbuhannya 1 kali tiap tahun.

Data hasil pengukuran tiap tahun akan diolah untuk mengetahui riap diameter, tinggi dan
volume setiap jenis meranti yang ditanam.

Di bawah ini adalah aktivitas monitoring pertumbuhan tanaman SILIN PT. Austral Byna yang
sudah dilakukan sejak tahun 2008 – 2013 :

Gambar 7. Pengukuran Tanaman Meranti pada PUP SILIN

Setelah melakukan pengukuran sejak 2008 – 2013, di bawah ini adalah kurva pertumbuhan
tinggi tanaman SILIN jenis Shorea leprosula, Shorea johorensis dan Shorea parvifolia yang
ditanam di PT. Austral Byna. Kurva ini dibuat oleh salah seorang Staff Peneliti dari Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Badan Litbang Kehutanan Kemenhut,
berdasarkan data hasil pengukuran PUP PT. Austral Byna.

Gambar 8. Kurva pertumbuhan tinggi 3 (tiga) jenis tanaman SILIN di PT. Austral Byna.

Dari gambar kurva di atas, jenis Shorea leprosula yang mempunyai bentuk kurva J terbalik dan
menunjukkan tren pertumbuhan tinggi yang paling bagus (progresif) dibanding Shorea
johorensis dan S. parvifolia.

5. Gambaran Tanaman Saat Ini
Tidak terasa penanaman SILIN di Jupoi sudah mau 6 tahun berjalan. Tanaman pertama adalah
yang ditanam tahun 2008 seluas 462 hektar. Adapun sampai bulan November 2013 luas
tanaman TPTJ sudah mencapai 2.089 hektar.

Bagaimana performance tanaman yang ada ? Sebagian menunjukan pertumbuhan yang bagus,
misalnya jenis Shorea leprosula, ada juga yang di bawah rata-rata. Berikut adalah beberapa
visual tanaman yang ada di Blok TPTJ Sungai Jupoi.

Gambar 9. Tanaman Shorea leprosula umur 5 tahun

Gambar 10. Tanaman Shorea leprosula umur 2 tahun

6. Beberapa Permasalahan
Permasalahan terbesar yang ada adalah pembiayaan. Untuk menanam dan memelihara tanaman
diperlukan biaya yang cukup besar. Perusahaan masih berharap adanya insentif dari Pemerintah
yang nilainya bisa dihitung berdasarkan realisasi dan tingkat keberhasilan penanaman bagi tiap
perusahaan pelaksana TPTJ.

Demikian sekilas tentang pelaksanaan TPTJ (SILIN) di PT. Austral Byna.

Jakarta dan Base Camp Sikui, Akhir Desember 2013

Disusun Oleh : Adi Gani R
Pengarah : Rully Asrul Kemal
Pengarah : Rully Asrul Kemal
Kontributor : Tim SILIN & Lingkungan PT. Austral Byna (M. Ihya, Siti Mardiana, Iwan Kurniawan, Budi Yana, Setia Budiana), DR. Ir. Darwo, M.Si (Puslitbang Hutan Tanaman – Bogor)
 
@2008 PT. AUSTRALBYNA